Categories

Search

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Mei 2013

Semikonduktor

 
Rangkaian  elektronika  daya  merupakan  suatu  rangkaian  listrik yang dapat mengubah sumber daya listrik dari bentuk gelombang tertentu (seperti bentuk gelombang sinusoida) menjadi   sumber daya listrik dengan bentuk gelombang lain (seperti gelombang nonsinusoida) dengan menggunakan piranti semikonduktor daya. Semikonduktor daya memiliki  peran  penting  dalam  rangkaian  elektronika  daya. Semikonduktor daya dalam rangkaian elektronika daya umumnya dioperasikan sebagai pensakelar (switching), pengubah (converting), dan  pengatur  (controlling) sesuai  dengan  unjuk  kerja  rangkaian elektronika daya yang diinginkan.

      Penggunaan semikonduktor yang dioperasikan sebagai sakelar dalam   suatu  rangkaian   elektronika   memiliki   keuntungan   dapat menaikkan efisiensi dan performasi rangkaian karena rugi daya yang terjadi relatif kecil. Seperti karakteristik sekelar pada umumnya, karakteristik semikonduktor daya yang dioperasikan sebagai sakelar memiliki dua keadaan, yaitu: kondisi ’ON dan kondisi ’OFF’. Hal ini berarti,  rangkaian  dalam  keadaan  tertutup atau  terbuka’.  Dalam kondisi ideal, semikonduktor daya yang dioperasikan sebagai sekelar hanya menyerap daya yang relatif kecil baik saat kondisi ’ON maupun ’OFF’ atau bahkan dalam kondisi tertentu daya yang diserap dapat diabaikan (nol). Keuntungan lain dari proses pensakelaran ini dapat dilakukan  sekaligus  proses  pengubahan  atau  proses  pengaturan. Karena keistimewaan inilah semikonduktor daya banyak digunakan dalam pengaturan daya listrik.

Aplikasi rangkaian elektronika biasanya digunakan pada peralatan konversi daya listrik yang besar; seperti : transmisi daya listrik, pengaturan motor listrik secara elektronis di industri; hingga peralatan listrik  keperluan  sehari-hari  dengan  daya  yang  rendah.  Pengaturan lampu (dimmer) dan Uninterutable Power Supply (UPS)   merupakan contoh aplikasi rangkaian elektronika daya yang sering dijumpai dalam pemakaian  sehari-hari.  Di  samping  itu,  rangkaian  elektronika  daya dapat mengubah beberapa bentuk rangkaian listrik pengubah, antara lain: rangkaian listrik yang mengubah sumber listrik arus bolak-balik (alternating current AC) menjadi sumber listrik arus searah (direct current DC), mengubah sumber listrik arus searah (direct current – DC) menjadi sumber listrik arus bolak-balik (alternating current AC), mengubah tegangan DC tetap menjadi tegangan DC yang dapat diatur, dan mengubah sumber AC dengan frekuensi tertentu menjadi sumber AC dengan frekuensi baru. Uraian tentang rangkaian listrik pengubah ini akan dijelaskan secara lengkap dalam bab selanjutnya.


B. KARAKTERISTIK SEMIKONDUKTOR DAYA


1. Dioda

Dioda merupakan semikonduktor (komponen) elektronika daya yang memilki dua terminal, yaitu: anoda dan katoda. Dalam rangkaian elektronika daya, dioda difungsikan sebagai sakelar. Gambar 1.1 (a), (b),  dan  (c)  masing-masing  ditunjukkan  simbol  dioda,  karakteristik diode,  karakteristik  ideal  dioda  jika  dioperasikan  sebagai  sakelar. Sebagai sakelar, sebagaimana Gambar 1 (c), dioda akan konduksi (ON) jika potensial pada anode lebih positif daripada potensial pada katoda, dan dioda akan memblok (OFF) jika potensial pada anoda lebih negatif daripada potensial pada katoda.
 

Gambar 1.1 Diode: (a) simbol diode, (b) karakteristik diode,
(c) karakteristik ideal diode sebagai sakaler


Jika diode dalam kondisi ideal, ketika dioda dalam kondisi ON memiliki karakteristik tegangan pada dioda sama dengan nol dan arus yang mengalir pada diode sama dengan arus bebannya. Sebaliknya, dioda dalam kondisi OFF memiliki karakteristik tegangan pada dioda sama dengan tegangan sumbernya dan arus yang mengalir sama dengan nol. Dalam kondisi dioda ON dan OFF ini dapat dinyatakan tidak terjadi kerugian daya pada dioda.

2. Thyristor


Semikonduktor daya yang termasuk dalam keluarga thyristor ini, antara  lain  :  SCR  (silicon-controlled retifier),  GTO  (gate  turn-off thyristor), dan TRIAC. SCR banyak digunakan dalam rangkaian elektronika daya. SCR memiliki tiga terminal, yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR dapat digunakan dengan sumber masukan dalam bentuk tegangan bolak-balik (AC) maupun tegangan searah (DC). SCR dalam rangkaian elektronika daya dioperasikan sebagai sakelar. Gambar 1.2 (a), (b), dan (c) masing-masing ditunjukkan simbol SCR, karakteristik SCR, karakteristik ideal SCR jika dioperasikan sebagai sakelar.

Jika sumber tegangan masukan yang digunakan tegangan searah, SCR akan konduksi (ON) jika potensial pada anoda lebih positif daripada potensial  pada  katoda  dan  pada  terminal  gate  dialirkan  arus  pulsa positif. Kondisi ON SCR ini ditentukan oleh besar arus pulsa positif pada gate.  Tetapi,  SCR  akan  terus  ON  meskipun  arus  pulsa  pada  gate diputus. SCR akan putus (OFF) dengan cara membuat potensial pada anoda sama dengan katoda. Proses pengaliran arus listrik pada terminal gate  ini  disebut  penyulutan/ pemicu  (triggering), sedangkan  proses pemutusan (OFF) dari kondisi ON ini disebut komutasi (commutation).

Selanjutnya,  jika  sumber  tegangan  masukan  yang  digunakan tegangan bolak-balik, SCR akan ON ketika tegangan bolak-balik pada polaritas  positif  dan  akan  OFF  pada  polaritas  negatif,  tetapi  pada terminal gate harus selalu dialirkan arus pulsa positif. Berbeda dengan karakteristik sebelumnya, SCR akan OFF ketika arus pulsa pada gate diputus. Hal ini berarti, arus pulsa pada gate harus selalu dihubungkan dengan terminal gate agar rangkaian dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan.
 
Gambar 1.2 SCR: (a) simbol SCR, (b) karakteristik SCR,
(c) karakteristik ideal SCR sebagai sakelar


Jika  SCR  dalam  kondisi  ideal,  ketika  SCR  dalam  kondisi  ON memiliki karakteristik tegangan pada SCR sama dengan nol dan arus yang mengalir sama dengan arus bebannya. Sebaliknya, SCR dalam kondisi OFF memiliki karakteristik tegangan pada SCR sama dengan tegangan sumbernya dan arus yang mengalir sama dengan nol. Dalam kondisi SCR ON dan OFF ini dapat dinyatakan tidak terjadi kerugian daya pada SCR.


3. Gate Turn-off (GTO)Thyristor


GTO merupakan komponen elektronika daya yang memiliki   tiga terminal, yaitu:  anoda,  katoda,  dan  gerbang  (gate). Semikonduktor daya   ini  termasuk   dalam   keluarga   thyristor.   Dalam   rangkaian elektronika daya,   GTO dioperasikan sebagai sakelar. Gambar 1.3 (a), (b), dan (c) masing-masing ditunjukkan simbol GTO, karakteristik GTO, karakteristik ideal GTO jika dioperasikan sebagai sakelar. Seperti SCR, GTO  akan  konduksi  (ON)  jika potensial  pada  anoda  lebih  positif daripada potensial pada katoda dan pada terminal gerbang dialirkan pulsa arus positif dan akan terus ON.   GTO akan OFF jika terminal gerbang dan katoda diberi tegangan yang lebih negatif atau dialiri pulsa arus negatif.
 

Gambar 1.3 GTO: (a) simbol GTO, (b) karakteristik GTO,
(c) karakteristik ideal SCR sebagai sakelar



4. Transistor

                      
Transistor merupakan komponen elektronika daya yang memiliki tiga terminal, yaitu: basis, emitor, dan kolektor. Dalam rangkaian elektronika daya, transistor umumnya dioperasikan sebagai sakelar dengan  konfigurasi  emitor-bersama.  Transistor  bekerja  atas  dasar prinsip  kendali-arus  (current driven). Gambar  1.4  (a),  (b),  dan  (c) masing-masing ditunjukkan simbol transistor, karakteristik transistor, dan karakteristik ideal transistor sebagai sakelar. Transistor   dengan jenis NPN akan ON jika pada terminal kolektor-emitor diberi panjar (bias) dan pada basis memiliki potensial lebih positif daripada emitor dan memiliki arus basis yang mampu mengendalikan transistor pada daerah jenuh. Sebaliknya, transistor akan OFF jika arus basis dikurangi
hingga pada kolektor tidak dapat mengalirkan arus listrik.

 
Gambar 1.4 Transistor: (a) simbol transistor, (b) karakteristik transistor, (c) karakteristik ideal transistor sebagai sakelar


Jika transistor dalam kondisi ideal, ketika transistor dalam kondisi ON memiliki karakteristik tegangan pada terminal emitor dan kolektor (VCE)   sama dengan nol dan arus yang mengalir sama dengan arus bebannya. Sebaliknya, ketika transistor dalam kondisi OFF memiliki karakteristik tegangan pada transistor sama dengan tegangan sumbernya (VCC)    dan arus yang mengalir sama dengan nol. Dalam kondisi  transistor  ON  dan  OFF  ini  dapat  dinyatakan  tidak  terjadi kerugian daya pada transistor sebagai sakelar.


5. MOSFET

 
MOSFET merupakan komponen semikonduktor daya yang memiliki tiga terminal, yaitu: gerbang, sumber (source), dan pengalir (drain). MOSFET bekerja atas dasar prinsip kendali-tegangan (voltage-driven). Gambar  1.5  (a),  (b),  dan  (c)  masing-masing  ditunjukkan  simbol MOSFET, karakteristik MOSFET, dan karakteristik ideal MOSFET sebagai sakelar. Rangkaian pengaturan ON dan OFF dengan piranti MOSFET lebih  mudah  dibandingkan  piranti  transistor.  Jika  pada  terminal gerbang-sumber dicatu tegangan yang cukup besar maka piranti akan ON, sehingga menghasilkan tegangan yang kecil antara terminal pengalir-sumber. Dalam kondisi ON, perubahan tegangan pada terminal pengalir-sumber berbanding lurus dengan arus pada terminal pengalirnya. Jadi, terminal pengalir-sumber memiliki resistansi sangat kecil pada saat kondisi ON.
 
Gambar 1.5 MOSFET: (a) simbol MOSFET, (b) karakteristik MOSFET, (c) karakteristik ideal MOSFET sebagai sakelar
Jika MOSFET dalam kondisi ideal, ketika MOSFET dalam kondisi ON memiliki karakteristik tegangan pada terminal pengalir dan sumber (VDS)   sama dengan nol dan arus yang mengalir sama dengan arus bebannya. Sebaliknya, ketika MOSFET dalam kondisi OFF memiliki karakteristik   tegangan   pada   MOSFET   sama   dengan   tegangan sumbernya (VDD)    dan arus yang mengalir sama dengan nol. Dalam kondisi MOSFET ON dan OFF ini dapat dinyatakan tidak terjadi kerugian daya pada MOSFET sebagai sakelar.

            6. Insulated Gate Bipolar Transistor (IGBT)


IGBT merupakan komponen elektronika daya yang memiliki karakteristik gabungan antara MOSFET, transistor, dan GTO. Seperti MOSFET, IGBT memiliki impedansi gerbang yang tinggi sehingga hanya memerlukan arus yang kecil untuk mengaktifkannya. Serupa dengan transistor, IGBT memiliki tegangan kondisi-ON yang kecil meskipun komponen  ini  mempunyai rating tegangan  yang besar dan  mampu memblok tegangan negatif seperti halnya GTO. Gambar 1.6 (a), (b), dan (c) masing-masing ditunjukkan simbol IGBT, karakteristik IGBT, dan karakteristik ideal IGBT sebagai sakelar. Seperti halnya semikonduktor daya di muka, IGBT dalam kondisi ON dan OFF tidak terjadi kerugian daya pada IGBT sebagai sakelar.




 

Gambar 1.6 IGBT: (a) simbol IGBT, (b) karakteristik IGBT,
(c) karakteristik ideal IGBT sebagai sakelar

C. PRINSIP DASAR RANGKAIAN ELEKTRONIKA DAYA

                 
Pengaturan daya listrik dapat dilakukan dengan cara melakukan konversi  bentuk  gelombang  besaran  tertentu  menjadi  bentuk  lain dengan menggunakan suatu rangkaian elektronika dengan prinsip kerja yang memanfaat karakteristik pensakelaran dari piranti semikonduktor daya sebagai diuraikan di muka. Esensi dasar rangkaian elektronika daya dapat dijelaskan melalui Gambar 1.7 (a) dan (b). Gambar 1.7 (a) merupakan pengaturan sumber tegangan VS menjadi sumber tegangan luaran (VRL) pada beban RL  yang nilainya ditentukan oleh pengaturan potensiometer, dimana nilai tegangan VRL  akan selalu lebih kecil atau maksimum sama dengan tegangan VS. Pengaturan tegangan dengan menggunakan  potensiometer  ini,  terdapat  rugi  daya  pada potensiometer  sebesar  I2    (R1    +  R2).  Dalam  konsep  rangkaian elektronika daya, rugi daya tersebut harus ditiadakan atau dirancang tidak ada rugi daya dalam rangkaian. Untuk keperluan tersebut, potensiometer  diganti  dengan  prinsip  pensakelaran  elektronis (electronic switching). Prinsip  pensakelaran elektronis  merupakan dasar dari operasi suatu rangkaian elektronika daya seperti ditunjukkan pada Gambar 1.7 (b). Komponen semikonduktor daya sebagaimana dijelaskan di muka umumnya digunakan sebagai sakelar elektronis ini. Dari Gambar 1.7 (b) dapat dijelaskan bahwa saat sakelar elektronis (SE) kondisi ON dan OFF tidak terjadi rugi daya pada SE, karena saat ON tegangan pada SE sama dengan nol dan arus yang mengalir pada SE sama dengan arus pada beban RL. Sebaliknya, saat OFF tegangan pada SE sama dengan sumber VS  tetapi arus yang mengalir pada SE sama dengan nol sehingga rugi daya sama dengan nol.
Gambar 1.7 Prinsip Dasar Rangkaian Elektronika Daya


Berbagai konversi daya dapat dilakukan dengan rangkaian elektronika daya. Fungsi dasar dari konversi daya listrik dengan piranti semikonduktor daya dapat ditunjukkan dengan Gambar 1.8. Dengan acuan konversi daya tersebut, rangkaian elektronika daya dapat diklasifikasikan dalam lima jenis, yaitu :

1. Penyearah  tak-terkendali,  yakni  suatu  rangkaian  yang  mengubah tegangan arus bolak-balik (AC) menjadi tegangan arus searah (DC) tetap/ diatur.
2. Penyearah terkendali (konverter AC-DC), yakni suatu rangkaian yang

mengubah   tegangan   AC   menjadi   tegangan   DC   yang   dapat dikendalikan/ diatur.
3. Pengatur tegangan arus bolak-balik (konverter AC-AC), yakni suatu rangkaian yang dapat mengubah tegangan AC tetap menjadi tegangan AC yang dapat dikendalikan/ diatur.
4. Pemangkas arus searah (chopper DC), yakni suatu rangkaian yang digunakan untuk mengubah sumber tegangan DC tetap menjadi sumber tegangan DC yang dapat dikendalikan/diatur.
5. Inverter (konverter DC-AC), yakni suatu rangkaian yang digunakan

untuk  mengubah  sumber  tegangan  DC  tetap  menjadi  sumber tegangan AC yang dapat dikendalikan/diatur.

 
Gambar 1.8  Bentuk Konversi Daya Listrik dengan
Piranti Semikonduktor Daya



0 komentar: